Sunday, March 29, 2015

Menguak Citra Negatif Pehobi Fotografi

Setiap orang, kelompok, profesi atau grup apapun yang telah eksis selama satu periode waktu tertentu selalu secara otomatis menciptakan identitas-identitas dan atribut-atribut yang menempel pada kelompok atau perorangan tersebut. Ketika kita menyebut tentara, maka kata-kata seperti “tegas”, atau “disiplin” muncul. Ketika kita menyebut penegak hukum,kata-kata seperti “kaku”, “pungli” mungkin muncul. Begitu juga ketika kita menyebut profesi “seniman”, maka identitas “nyeleneh”, “anti kemapanan” dan bahkan “aneh” kerap menempel pada profesi ini.

Atribut-atribut yang mencerminkan identitas tiap orang, tiap profesi atau tiap kelompok tercipta secara alami atas tindak-tanduk orang atau kelompok tersebut, bukan hasil dari penilaian orang yang tanpa dasar atau berdasar tendensi tertentu. Proses ini yang dalam bahasa komunikasi dan marketing disebut sebagai pencitraan.

Proses persiapan pemilu legislatif dan pemilihan presiden bisa menjadi suatu pelajaran yang berharga mengenai bagaimana partai politik serta capres dan cawapres berusaha membentuk citra mereka. Setiap partai, capres dan cawapres boleh saja berusaha membentuk citra dengan pesan-pesan propaganda dalam iklan-iklan politik mereka. Namun harus diingat bahwa proses pencitraan bukanlah sebuah proses yang berlangsung dan selesai dalam waktu satu malam. Proses pencitraan adalah proses yang butuh waktu yang panjang. Di waktu yang tidak pendek itu audience berusaha menangkap tindak-tanduk yang secara konsisten dilakukan oleh partai-partai politik serta capres dan cawapres.

Bagaiamana dengan fotografi? Citra apa yang muncul dan identik dengan fotografer-fotografer Indonesia? Kami tertarik meluangkan waktu untuk mencari tahu mengenai pencitraan negatif yang terbentuk terhadap title “fotografer” terutama mereka yang belum lebih dari 10 tahun menekuni fotografi di Indonesia dengan melakukan survey kecil-kecilan terhadap orang-orang yang hidup di sekitar pelaku fotografi Indonesia. Tujuannya tidak lain adalah sebagai bahan evaluasi bersama mengenai tindak-tanduk kita semua sebagai para pelaku fotografi Indonesia.

Dan apapun hasilnya, semoga kita semua bisa menerima dengan besar hati dan lapang dada sebagai suatu fakta yang terungkap atas perilaku kita selama ini dan juga yang paling penting adalah niatan untuk berusaha menciptakan penciptaan yang lebih baik lagi.

Kami bertanya ke empat group yang berbeda.
Group pertama adalah orang awam yang hidup disekeliling fotografer.
Group kedua adalah orang yang pernah memakai jasa fotorgafer alias klien.
Group ketiga adalah para model yang pernah difoto oleh fotorgafer dari berbagai kelas.
Group keempat adalah orang yang dalam pekerjaannya bekerjasama dengan fotografer, seperti make up artis, food stylist, fashion stylist, dll.
Group kelima adalah mereka yang usahanya menjual peralatan fotografi.
Tujuan dari riset kecil-kecilan ini adalah untuk mencari informasi mengenai kesan atau citra atau identitas apa yang menancap pada diri fotorgafer dari tiap-tiap group tersebut.

Jawaban teratas yang muncul dari kategori pertama (orang awam) adalah Narsis.
Narsis yang artinya kelewat mengagumi diri sendiri di atas orang lain masih menjadi citra utama fotografer.

“Saya punya banyak teman fotografer, masalahnya kalau sudah ngomong soal foto, pasti selalu diri mereka sendiri yang jadi kiblatnya.” Ungkap Dita, seorang mahasiswi yang berpacaran dengan seorang fotografer.

Sebagian besar responden mengatakan bahwa ketika berbicara mengenai foto, walaupun memulai dengan foto karya orang lain dan bahkan karya fotografer terkenal sekalipun seringkali pada akhir pembicaraan pembahasannya menjadi usaha pengakuan kualitas foto sang fotografer yang berada di situ oleh fotografer itu sendiri.

“Banyak fotografer yang mendadak jadi tidak tertarik berbicara mengenai foto orang lain, walaupun pada awalnya sangat antusias ketika berbicara mengenai foto hasil karyanya sendiri.” Ungkap Endi, responden lain.

Di urutan kedua tentang citra seorang fotografer menurut orang awam, muncul jawaban “sombong”.

“banyak teman saya yang berubah menjadi belagu dan merasa paling tahu dan paling hebat dalam segala hal ketika mulai mendalami
fotografi.” Ungkap Endi.

Beberapa responden menduga bahwa profesi fotografer yang kerap berhubungan dengan mahluk-mahluk menarik (baca: model) membuat mereka merasa menjadi orang-orang yang memiliki posisi yang istimewa karena bisa berhubungan dengan model. Profesi fotografer yang diyakini sebagai “jalan instan” untuk menjadi seniman juga ikut berperan meningkatkan gengsi, harga diri dan kesombongan fotografer.

“Dulu nggak sembarangan orang bisa menjadi fotografer, biarpun dari dulu siapapun termasuk tukang becak sekalipun bisa membeli dan menggunakan kamera.” Ungkap TH, seorang fotografer professional. “Permasalahannya dulu fotografi masih mendapat banyak rintangan dalam hal teknis, terutama karena tidak bisa langsung jadi dan direview, sehingga asal jepret belum tentu jadi bagus. Kalau sekarang tidak lebih dari dua detik setelah menjepret, hasilnya sudah bisa dilihat dan direview kurangnya di mana, jadi kesempatan untuk membuat foto bagus jadi lebih cepat.” Sambungnya. TH melihat tingkat kesulitan yang cukup tinggi untuk menjadi fotorgafer di masa lalu akibat hambatan teknologi yang kini sudah bisa diatasi oleh masalah digital seolah-olah menciptakan euphoria bagi mereka yang ingin mencicipi title “fotografer” yang begitu bergengsi di masa lalu. “akhirnya, karena sudah merasa berhasil jadi fotografer, jadi merasa layak untuk sombong.” Ungkap TH.

Sementara pada kelompok klien, muncul citra “over confidence” atau dalam bahasa Indonesia sering diartikan sebagai percaya diri yang berlebih pada jawaban pertama. Banyak responden yang mengeluhkan teman/kerabatnya yang memiliki hobby fotografi yang mendadak merasa bisa melakukan pemotretan apapun.

“Banyak teman saya yang setelah beberapa bulan memiliki kamera SLR mendadak menambahkan kata-kata photography di belakang nama mereka.” Ungkap AT, seorang responden. “waktu saya mau nikah dulu, ada setidaknya 5 orang yang menawarkan jasa foto pre wedding hingga liputan. Karena tidak mau mengecewakan teman, saya terima saja tawaran itu dengan bayaran yang juga telah disetujui. Sayangnya sejak pemotretan pre wedding saja sudah berantakan semua. Hasilnya pas-pasan. Fotonya nggak jauh beda dengan foto orang awam.” Ungkap Wina, seorang ibu rumah tangga.

Lain lagi dengan Beny, lelaki yang berprofesi sebagai brand manager di sebuah perusahaan farmasi ini mengaku sangat kecewa dengan pencitraan yang muncul pada diri fotografer.

“Pernah suatu saat saya harus mencari fotografer untuk produk baru yang akan saya luncurkan. Karena ini produk yang pertama kali saya tangani dari awal, atasan saya memberi kebebasan kepada saya untuk mencari dan memilih fotografer untuk melakukan pemotretan itu. Karena merasa memiliki banyak kenalan yang berprofesi sebagai fotorgafer, saya coba saja lempar informasi tersebut di milis dan facebook. Dan benar saja belasan fotografer mengajukan diri. Setelah melalui seleksi portfolio dan harga, didapatlah satu orang fotografer. Sayangnya ketika sesi pemotretan bos saya ikut mensupervisi sementara fotografer yang ditunjuk ini ternyata tidak bisa mengeksekusi pemotretan ini dengan baik, walaupun portfolionya cukup meyakinkan.” Ungkapnya.

Jawaban kedua terbanyak pada kelompok klien ini adalah perkataan “nanti di photoshop aja”. Jawaban ini masih menjadi identitas fotografer menurut para klien.

“sedikit-sedikit ngomong nanti di photoshop aja. Padahal waktu pitching nggak pernah ada omongan gitu.” Ungkap Rini, seorang marketing manajer sebuah produk makanan.

Memang kemudahan yang ditawarkan oleh teknoogi digital pada software editing foto membuat fotografer menjadi manja dan sangat bergantung pada software editing foto, disamping banyak juga yang memang terpaksa menggantungkan diri pada software editing foto karena keterbatasan kemampuan berfotografi.

Pada kelompok ketiga, yaitu kelompok model dan talent, jawaban terbanyak yang muncul adalah fotografer yang nggak berani satu lawan satu.

“Saya banyak ditawari job pemotretan, tapi hampir 70% dilakukan ramai-ramai.” Ungkap bunga, seorang model berusia 22 tahun. “Lucunya, ketika besok-besoknya ada pemotretan satu lawan satu, di mana fotografernya hanya seorang diri, si fotografer malah terlihat gugup dan canggung. Jangan-jangan memang beraninya keroyokan.” Sambungnya.

Bunga mengaku lebih menyukai sesi pemotretan satu lawan satu karena hasil yang didapatkan sudah pasti lebih baik karena komando datang dari satu orang fotografer sehingga ia bisa mencurahkan kemampuan atas komando yang jelas dari satu orang fotografer saja.

“kalau dikasih job pemotretan rame-rame biasanya saya terima karena uangnya saja. Kalau hasilnya jadi bosenin, selain nggak maksimal fotonya jadi mirip-mirip satu dengan yang lainnya.” Sambungnya. Yang lebih disesali lagi adalah ketika beramai-ramai permintaan dari fotografer yang terlibat terkadang macam-macam. “kalau motretnya rame-rame pasti mintanya mengarah ke yang aneh-aneh, suruh buka kancing lah, suruh angkat rok lah. Lucunya ketika satu lawan satu fotorgafernya malah nggak berani minta yang aneh-aneh.” Ungkapnya.

Hal selanjutnya yang juga dominan di kelompok model adalah ketidaktahuan sang fotografer akan apa yang ia inginkan.

“banyak fotografer yang nggak tahu maunya apa. Di suruh ini, di suruh itu, akhirnya disuruh terserah aja. Jadi fotonya jadi nggak jelas konsep dan arahannya.” Ungkap Nita, model yang berada dalam satu managemen dengan Bunga.

Di kelompok profesi pendukung fotografer, keluhan yang keluar adalah ketidak mengertian sang fotografer mengenai bidang pendukung fotografi tersebut sehingga menyulitkan komunikasi di antara mereka.

“Seringkali saya memulai make up tanpa arahan dari fotografernya karena fotorgafernya nggak ngerti mau diapain modelnya. Akhirnya biasanya mereka cuma bilang,yang bagus deh, supaya kelihatan lebih muda, lebih cakep, lebih tirus, dll” ungkap JL seorang make up artist.

Lebih parah lagi, seringkali JL menemui fotografer yang justru salah memberi lighting kepada model tertentu yang pada akhirnya make upnya jadi hampir tidak ada gunanya atau malah bahkan ditabrak.

“seharusnya kalau mau motret, setidaknya fotografer komunikasi dengan make up artist hasil yang mau mereka dapatkan kayak apa sih, kalau perlu tunjukin referensinya, nanti kita yang Bantu.” Ungkap JL.


Di kategori terakhir (pedagang peralatan fotografi), muncul jawaban gadget mania pada para pehobi fotografi.

“Yang masih tanggung-tanggung senengnya diracunin soal lensa baru, kamera baru, asesoris baru. Dalam hitungan hari pasti dibeli.” Ungkap AH, seorang pedagang peralatan fotografi.

“Dari datangnya saja sudah kelihatan, kalau datangnya bawa tas kamera yang lumayan gede, dan biasanya bawa kamera atau bahkan lensa-lensanya biasanya itu para gadget mania. Sebagian besar fotonya biasa aja, tapi alatnya memang lengkap banget.” Sambungnya.

Akhirnya fotografer-fotografer semacam ini yang menjadi korban dari siasat bisnis pedagang peralatan fotografi.

Bagi kita semua, mungkin hasil temuan di atas bukan sesuatu yang mengejutkan lagi karena kita temui di sekeliling kita atau bahkan kita lakukan setiap harinya. Tanpa berusaha menghakimi, sebenarnya temuan-temuan yang sudah tidak istimewa ini diangkat dan disajikan sebagai upaya untuk sekali lagi mengingatkan pelaku fotografi di Indonesia untuk lebih mengedepankan kualitas foto di atas hal-hal lain yang tidak berhubungan langsung dengan kualitas fotografi itu sendiri.

Sumber: The Light Edisi 23