Sunday, July 18, 2010

Memburu Jejak GAJAH MADA

Entah mengapa, akhir2 ini saya mendadak tergila2 membaca kisah Gajah Mada melalui e-book yang sengaja saya simpan dalam ponsel. Saya selalu sempatkan menyimak cerita karya Langit Kresna Hariadi tersebut setiap ada waktu luang, entah itu di sela2 pekerjaan kantor maupun dalam perjalanan luar kota.

Semua pasti sudah pada tau kan' siapa Gajah Mada itu. Beliau adalah mahapatih kerajaan Majapahit, sekaligus tokoh penting yang membawa kerajaan besar tersebut mencapai puncak masa kejayaannya dengan menguasai wilayah melebihi luas wilayah kedaulatan negeri kita saat ini.

Sebenarnya, novel pentalogi Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi ini diterbitkan dalam 5 judul. Diawali dengan kisah petualangan sang mahapatih saat menghadang pemberontakan Ra Kuti, dilanjutkan dengan episode Bergelut dalam Kemelut Tahta dan Angkara, Hamukti Palapa, Perang Bubat... dan diakhiri dengan Madakaripura Hamukti Moksa.

Membaca kisah Gajah Mada ini bagai membawa angan2 saya balik ke abad 14. Saya benar2 tak habis pikir, penulis dengan lancar menceritakan semua alur kejadian. Penuh dengan kosakata kemiliteran pada waktu itu, seperti deskripsi istana, struktur kemiliteran, persenjataan dan bahkan taktik perang yang lazim digunakan jaman itu.

Coba untuk sejenak kita alihkan perhatian kepada kisah2 klasik negeri Tiongkok yang banyak diangkat ke dalam bentuk serial video...

Pasti semua ingat dengan kisah petualangan Kwe Ceng dan Yo Ko dalam film seri The Legend of Condor Heroes hingga The Return of the Condor Heroes. Kalau tidak salah, tokoh Yo Ko pernah juga diperankan dengan baik oleh aktor Andy Lau dan sempat menduduki rating tinggi saat diputar kembali di Indosiar pada tahun 90an.

Entah sudah berapa kali kisah kedua film di atas diproduksi dan diproduksi kembali dengan versi yang lebih baru dan diperankan oleh bintang2 yang baru pula. Kalau saya coba hitung, mulai tahun 1976 hingga 2006 ada 8 versi film The Return of Condor Heroes. Bayangkan...

Padahal jujur saja saya tidak yakin, apakah cerita yang diangkat dalam film tersebut beserta tokoh2nya merupakan kisah sejarah, mitos atau bahkan hanya sekedar fiksi belaka.

Seandainya tokoh2 perfilman di negeri kita ini memiliki keberanian dan jiwa nasionalisme yang tinggi, sebenarnya angan2 untuk memfilmkan kisah Gajah Mada bisa menjadi kenyataan seperti halnya kisah Yo Ko dalam The Return of Condoer Heeroes. Dan tentu saja tidak kalah seru.

Yah, tentu saja saya hanya bisa berharap...
Nah, bagi yang tertarik untuk mengikuti kisah Gajah Mada, saya ada hadiah e-book gratis yang siap didownload melalui link di bawah ini

»»  Silakan baca kelanjutannya

Monday, July 05, 2010

Foto2 Gadis Maskot yang Menyentuh Hati

Setiap pekerjaan, apapun jenisnya, selama tidak merugikan orang atau pihak lain, patut dibanggakan. Tak terkecuali pekerjaan menjadi penggerak maskot yang dilakoni seorang gadis China ini. Namun, meskipun tak ada yang salah pada pekerjaan gadis ini, toh orang-orang tetap iba melihatnya.

Foto-foto gadis maskot yang tersebar di situs-situs forum internet di China ini telah menjadi diskusi publik. Sang pengirim yang mengaku berprofesi sebagai fotografer, mengabadikan kegiatan gadis maskot ini secara diam-diam saat berlangsung Guangzhou Auto Show tahun lalu.

Tidak disebutkan siapa nama gadis maskot ini. Penulis hanya mengatakan sang gadis maskot tidak terlalu manis dibandingkan para model yang berpose bersama mobil-mobil terbaru saat pameran tersebut. Gadis ini hanya tidak beruntung.

Si juru foto juga mengatakan dirinya merasa tersentuh dengan gadis yang bekerja selama enam jam itu. Dengan beban berat di kepalanya dan balutan baju tebal yang panas, gadis ini harus mau menemani permintaan foto bersama setiap orang.

Kondisi itu jelas berbeda dengan pekerjaan para model cantik bertubuh semampai yang dibayar mahal untuk pose bersama mobil-mobil terbaru. Apalagi dalam pekerjaannya, sang model bisa ikut terkenal karena akan dipampang pada majalah-majalah dan internet.

“Awalnya saya mengira orang di balik topeng besar itu, yang melayani ajakan pemotretan setiap orang yang memintanya, adalah pria,” kata sang pemotret yang menuliskan ceritanya dalam posting-nya di forum internet.

“Saya memotret ratusan gadis dalam pameran itu. Namun sesampainya di rumah, ketika memilah hasil foto, saya terhenti pada foto-foto gadis ini. Sekarang saya ingin berbagi dengan Anda.”

“Meskipun gadis itu tidak tahu hal ini… namun saya berfikir kita layak memperhatikan dia…,” lanjutnya.

Berikut ini adalah rangkaian foto-foto gadis maskot yang diposting pada situs-situs forum di China.
Saat saya belum mengira bahwa orang di barik topeng maskot itu, yang selalu melayani foto pengunjung, adalah seorang gadis kecil yang manis.
anpa sengaja saya melihatnya sedang membuka topeng karena panas. Ternyata dia seorang gadis. Saya langsung mengarahkan kamera kepadanya, tanpa sadar harus mengatur seting kamera sebelumnya.
Saya hanya berjarak 10 meter darinya. Foto ini saya ambil setelah seting kamera saya atur. Dia sebenarnya bertiga, namun dua temannya sedang bertugas. Dia sedang beristirahat beberapa menit di balik pintu gerbang, sementara saya sembunyi agar dia tak melihat.
Dia mulai menggunakan kembali pakaian maskot dan bersiap kembali kerja setelah istirahat beberapa menit sambil mendinginkan tubuhnya.
Dia sedang mengangkat "mobil" (topeng) yang akan dipakai di kepalanya.
Dia bergerak seraya mencari perhatian pengunjung. Saya membuntutinya dan memotret diam-diam. Tampaknya tak banyak orang tahu kalau di balik topeng itu terdapat wajah gadis muda.
Dia menghibur banyak orang. Tapi dia tidak bisa berbusana untuk memperlihatkan daya tarik dirinya yang sesungguhnya, seperti yang dilakukan gadis-gadis model di auto show.
Dia melayani foto untuk gadis pengunjung yang mungkin ingin memajangnya di Twitter atau Facebook.
Saya agak marah dengan pemuda di belakang maskot yang memutar topeng besar itu. Apa yang akan dirasa gadis maskot apabila topengnya terjatuh dan orang-orang mengenal siapa dirinya...
Maskot lain dalam busana peri melintas. Saya pikir peran gadis ini lebih beruntung karena wajahnya tidak tersembunyi di balik topeng besar.
Pemuda ini tidak tahu bahwa yang sedang dirangkul adalah seorang gadis. Andai saja gadis maskot tidak bertopeng, mungkin dia tak akan mau melayani gaya foto seperti ini...
Gadis maskot keluar dan kembali melepas lelah. Kali ini jarak saya dengannya hanya 6-7 meter.
Dia terlihat basah kuyup oleh keringan. Tapi udara segar mungkin akan mengembalikan energinya di luar perasaan senang.
Saya pikir dia adalah mahasiswi. Tapi aku tidak berani bertanya padanya, sekalipun untuk memujinya. Saya rasa saya juga tidak sedang membuat pelanggaran karena memotret privasi seseorang.
Beberapa fotografer profesional yang memotret gadis-gadis model di auto show berdiri di dekatnya. Ada yang meminta izin mengambil gambar, tapi gadis maskot menolak dengan sopan.
Dia kembali ke dalam lokasi pameran. Dia melihat model yang bertubuh lebih tinggi darinya berpose bersama mobil. Mungkinkah ada perasaan iri di hatinya...?
Dia kembali melayani foto para pengunjung. Pria, wanita, anak-anak, orang dewasa, botak dan rambut panjang dilayani tanpa terkecuali.
ni satu jam setelah saya menguntit dirinya. Tampak kelelahan yang amat sangat. Tapi saya seperti melihat air ketika memandang gadis ini melepaskan topeng mobil besar dari kepalanya
Di sini dia memergoki saya sedang memotretnya. Dia jadi bersikap kaku. Dipegangnya topeng besar, duduk berjongkok, lalu membuka baju luarnya
Dia tampak sangat bahagia.
Saat matahari terbenam, dia menonton kerumunan orang dari sebuah sudut yang sepi...
Saya hanya sekitar 10 meter darinya. Dia seperti mengatakan sesuatu kepada pekerja sampah. Terlihat senyum lepas dengan dua lesung pipi yang besar...
Seorang model melintasinya. Saya melihat ada kerinduan di gadis maskot untuk bisa menjadi seperti Cinderella...
Sebuah pemandangan kontras antara sebuah gaya hidup dan keterpaksaan hidup. Mungkin keduanya sedang berada dalam realita. Tapi realita gadis maskot tak bisa unjuk glamor.
Foto akhir ini mungkin akan membuat perubahan baginya. Foto-foto yang saya muat ini mudah-mudahan membuatnya terkenal. Saya pun terkesan pada bagian ini. Saya tidak tahu, apakah dia membasuh peluh atau air mata. Inilah kerja keras seorang anak yang harus kita beri apresiasi
»»  Silakan baca kelanjutannya

Friday, July 02, 2010

Berapakah Usia Anda Saat Ini...

Berapa umur kita saat ini? 15, 25 tahun, 35 tahun, 45 tahun atau bahkan 60 tahun... Berapa lama kita telah melalui kehidupan kita? Berapa lama lagi sisa waktu kita untuk menjalani kehidupan? Tidak ada seorang pun yang tahu kapan kita mengakhiri hidup ini.

Matahari terbit dan kokok ayam menandakan pagi telah tiba. Waktu untuk kita bersiap melakukan aktivitas, sebagai karyawan, sebagai pelajar, sebagai seorang profesional, dll. Kita memulai hari yang baru. Macetnya jalan membuat kita semakin tegang menjalani hidup.

Terlambat sampai di kantor, itu hal biasa. Pekerjaan menumpuk, tugas dari boss yang membuat kepala pusing, sikap anak buah yang tidak memuaskan, dan banyak problematika pekerjaan harus kita hadapi di kantor.

Tak terasa, siang menjemput. "Waktunya istirahat..makan…makan.." Perut lapar, membuat manusia sulit berpikir. Otak serasa buntu. Pekerjaan menjadi semakin berat untuk diselesaikan. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Panas betul hari ini...

Akhirnya jam istirahat selesai, waktunya kembali bekerja... Perut kenyang, bisa jadi kita bukannya semangat bekerja malah ngantuk. Aduh tapi pekerjaan kok masih banyak yang belum selesai. (Belum lagi kalau terkadang harus menghadapi 'manusia-manusia sulit' yang menghambat pekerjaan kita)

Mulai lagi kita kerja, kerja dan terus bekerja sampai akhirnya terlihat di sebelah barat...Matahari telah tersenyum seraya mengucapkan selamat berpisah. Gelap mulai menjemput. Lelah sekali hari ini. Sekarang jalanan macet. Kapan saya sampai di rumah?

Badan pegal sekali, dan badan rasanya lengket. Nikmat nya air hangat saat mandi nanti. Segar segar...Ada yang memacu kendaraan dengan cepat supaya sampai di rumah segera, dan ada yang berlarian mengejar bis kota bergegas ingin sampai di rumah.
Dinamis sekali kehidupan ini. Waktunya makan malam tiba. Ibu kita telah menyiapkan makanan kesukaan kita. "Ohh..ada sop ayam" atau "Wah soto daging buatan ibu memang enak sekali", anak memuji masakan Ibunya. Itu juga kan yang sering kita lakukan....Selesai makan, bersantai sambil nonton TV. Tak terasa heningnya malam telah tiba.

Lelah menjalankan aktivitas hari ini, membuat kita tidur dengan lelap. Terlelap sampai akhirnya pagi kembali menjemput dan mulailah hari yang baru lagi. Kehidupan..ya seperti itulah kehidupan di mata sebagian besar orang. Bangun, mandi, bekerja, makan, dan tidur adalah kehidupan.

Jika pandangan kita tentang arti kehidupan sebatas itu, mungkin kita tidak ada bedanya dengan hewan yang puas dengan bisa bernapas, makan, minum, melakukan kegiatan rutin, tidur. Siang atau malam adalah sama. Hanya rutinitas... sampai akhirnya maut menjemput. Memang itu adalah kehidupan tetapi bukan kehidupan dalam arti yang luas. Sebagai manusia jelas memiliki perbedaan dalam menjalankan kehidupan.

Kehidupan bukanlah sekedar rutinitas. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencurahkan potensi diri kita untuk orang lain. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita berbagi suka dan duka dengan orang yang kita sayangi. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita bisa mengenal orang lain. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita melayani setiap umat manusia. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencintai pasangan kita, orang tua kita, saudara, serta mengasihi sesama kita.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita belajar dan terus belajar tentang arti kehidupan. Kehidupan adalah kesempatan untuk kita selalu mengucap syukur kepada Yesus. Kehidupan adalah... dan lain sebagainya.

Begitu banyak kehidupan yang bisa kita jalani. Berapa tahun kita telah melalui kehidupan kita? Berapa tahun kita telah menjalani kehidupan rutinitas kita? Akankah sisa waktu kita sebelum ajal menjemput hanya kita korbankan untuk sebuah rutinitas belaka? Kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput, mungkin 5 tahun lagi, mungkin 1 tahun lagi, mungkin sebulan lagi, mungkin besok, atau mungkin 1 menit lagi.

Hanya Tuhanlah yang tahu...Pandanglah di sekeliling kita...ada segelintir orang yang membutuhkan kita. Mereka menanti kehadiran kita. Mereka menanti dukungan kita. Orang tua, saudara, pasangan, anak, sahabat dan sesama...... Serta Tuhan yang setia menanti ucapan syukur dari bibir kita. Bersyukurlah pada-Nya setiap saat bahwa kita masih dipercayakan untuk menjalani kehidupan ini. Buatlah hidup ini menjadi suatu ibadah. Selamat menjalani hidup yang lebih berkualitas.

Publikasi ulang dari Group Kata Motifasi dan Membakar Semangat
»»  Silakan baca kelanjutannya

Wednesday, June 16, 2010

Selamat Jalan, Mom...

Kemarin, genap tujuh hari sejak kepergian mama. Buat kami sekeluarga, meninggalnya mama terlalu cepat dan tiba2, hingga kami semua tidak memiliki persiapan sama sekali untuk menghadapi rasa kehilangan ini.

Meskipun sulit dan berat buat saya, tetapi saya tetap ingin sekali menulis kisah saat2 terakhir mama bersama kami...

Hari libur Waisak, tanggal 28 Mei 2010 lalu, saya jemput mama dan papa dari Mojokerto. Sudah hampir dua minggu lamanya, mama tinggal di tempat Philip-adik saya. Dan waktu itu adalah saatnya beliau gantian tinggal di rumah saya.

Sejak papa pensiun dari usaha tokonya di Cepu, kedua orangtua kami memang kerap berkunjung dan tinggal di rumah kami secara bergantian untuk waktu yang cukup lama.

Bagi saya, kunjungan kedua orangtua kami di rumah adalah saat2 yang paling menyenangkan. Kami tidak punya anak, sehingga kehadiran mama dan papa terasa seperti memberi warna kehidupan baru dalam rumah tangga kami. Apalagi ada Yuk Mi, pembantu mama yang selalu ikut kemanapun mama pergi. Bagi saya Yuk Mi sudah seperti keluarga sendiri, Yuk Mi ini telah ikut mengabdi di keluarga mama bahkan sejak saya belum lahir. Kehadiran Yuk Mi juga sangat membantu sekali, karena meski usianya sudah tua, tapi Yuk Mi orangnya rajin sekali. Dan yang paling penting, saya merasa sangat tenang kalau ada Yuk Mi di samping mama.

Biasanya, setiap ada mama dan papa di Surabaya, kami selalu menyiapkan rencana acara jalan2, entah itu ke mal ataupun ke luar kota. Mama paling suka kalau diajak ke mal. Meski harus berjalan di atas kursi roda, tapi mama masih hobby cuci mata dan berbelanja camilan.

Februari lalu, saya ajak mama, papa dan Yuk Mi untuk mengunjungi Jembatan Suramadu. Dan kali ini, saya telah menjanjikan kepada mereka untuk jalan2 ke kota Malang pada hari Minggu, 6 Juni nanti. Mama dan papa gembira sekali, karena selain sudah puluhan tahun lamanya beliau tidak pernah berkunjung ke Malang, dalam perjalanan kali ini nantinya kami bakal menikmati mobil baru. Iya, saya bakal dapat fasilitas kendaraan baru dari perusahaan tempat saya bekerja. Dan saya telah menceritakan kabar gembira itu kepada mama dan papa.

Hampir setiap pulang kerja, mama tidak pernah lupa untuk menanyakan, kapan mobil barunya datang. Saya percaya, mama selalu mengharapkan berkat yang terbaik untuk anaknya. Dan rencana pengadaan kendaraan baru untuk saya tentu saja merupakan kabar menggembirakan buat mama.

Selasa, tepat tanggal 1 Juni, mobil baru yang dijanjikan perusahaan akhirnya tiba. Mama adalah orang yang paling bahagia. Saya tahu, mama sudah tidak sabar lagi untuk menikmatinya.

Selasa tanggal 2 Juni, seharusnya adalah hari libur Pilkada Surabaya, tetapi sayang perusahaan tempat Yuli-istri saya bekerja tidak meliburkan karyawannya. Jadi, saya hanya ajak mama dan papa berkunjung ke rumah Kim De (istri mendiang kakak tertua mama) di Citraland, sekalian mencicipi kendaraan baru yang sudah berhari2 beliau tanyakan itu.

Malamnya, baru kami sekeluarga jalan2 bersama Yuli dan Yuk Mi ke Royal Plaza. Mama telah berulang kali ke Royal Plaza. Tetapi, sinar kebahagiaan selalu saja tampak di wajah mama setiap kali beliau masuk di mal. Mama sempat membeli sandal baru dan dua bungkus camilan marning dan kacang kapri kesukaannya.

Hari Kamis, 3 Juni 2010, seharusnya kami berencana jalan ke Giant Hypermarket-Waru untuk mengantar papa melihat2 folding bike, karena memang sudah lama papa berencana membelinya. Tetapi ketika tiba di rumah sepulang kerja, papa memberitahu saya bahwa mama sedang tidak enak badan. Saya periksa dahi mama memang terasa agak panas, tetapi kami semua merasa bahwa itu hanyalah gejala sakit ringan. Mama memang mengidap batu ginjal, sehingga jika infeksinya kambuh, biasanya suhu badannya naik.

Meskipun papa merasa berat untuk meninggalkan rumah, tetapi mama tetap memaksanya untuk berangkat ke Giant tanpa mama dan Yuk Mi. Akhirnya, kamipun berangkat bertiga saja; papa, saya dan Yuli. Malam sepulang dari Giant, saya lihat keadaan mama sudah membaik. Mama sudah tidak kedinginan lagi dan melepas mantelnya. Badannya juga tampak berkeringat. Kamipun merasa lega.

Pagi2 sewaktu bangun tidur, papa memberitahu saya bahwa semalam mama diare disertai muntah. Saya menawarkan ke papa untuk panggil dokter, tetapi papa mengatakan bahwa segalanya akan baik2 saja. Papa sangat mengerti betul kondisi kesehatan mama, di samping itu papa juga bukan orang yang tidak paham sama sekali mengenai ilmu kesehatan. Situasi terberat sekalipun pernah dialami oleh papa saat merawat mama ketika sakit berat beberapa tahun lalu. Sehingga, pendapat papa sedikit menenangkan saya.

Di tempat kerja, saya tidak merasakan firasat buruk apapun mengenai kesehatan mama. Hingga menjelang sore sekitar pukul 4:30, papa menelepon saya dan memberitahukan kondisi mama yang sangat mengkhawatirkan.

Tanpa banyak pertimbangan, sayapun langsung tancap gas untuk pulang ke rumah. Situasi jalanan yang macet setiap jam pulang kerja benar2 bikin pikiran saya semakin kusut.

Sampai di rumah, saya melihat kondisi mama yang sudah kehilangan kesadarannya. Saya coba untuk memanggil dan membangunkannya, tetapi mama tidak bergerak sama sekali. Di tengah rasa khawatir yang amat sangat, saya putuskan untuk membawa mama langsung ke rumah sakit. Kami pindah tubuh mama dari tempat tidur ke kursi roda, setelah itu baru saya dorong keluar. Tetapi karena kesulitan memindahkan mama dari kursi roda ke bangku tengah, akhirnya kami baringkan mama di baris belakang yang seharusnya berfungsi sebagai bagasi bersama Yuk Mi.

Semula, saya dan papa berniat membawa mama ke RKZ, tetapi di tengah perjalanan rencana berubah. Kaluar dari gerbang Delta Sari, kami langsung meluncur ke Rumah Sakit Mitra Keluarga - Waru. Sesampai di rumah sakit, mama langsung mendapat perawatan intensif di UGD.

Rumah Sakit Mitra Keluarga, bagi saya adalah rumah sakit favorit yang memiliki fasilitas terbaik untuk para pasiennya. Pelayanannya cepat dan sigap. Tetapi beaya yang harus kami tanggungpun juga sesuai dengan kualitas yang mereka berikan. Mama harus menjalani CT scan untuk memeriksa penyebab menurunnya tingkat kesadaran mama, untuk itu kami diharuskan membayar langsung beaya CT scan saat itu juga.

Hasil CT scan menunjukkan bahwa telah terjadi penyumbatan pembuluh darah di otak. Mama harus masuk ICU dan pihak rumah sakit mengharuskan mama untuk dirawat-inap di kamar intermediate. Kembali kami harus mengeluarkan beaya deposit untuk 10 hari.

Meskipun dengan terseok2, kami... saya dan Philip masih bisa mengusahakan sejumlah beaya yang harus kami keluarkan di awal2 pengobatan mama. Tetapi, untuk antisipasi kelanjutannya, saya masih harus mendapatkannya dengan cepat. Segalanya berjalan begitu mendadak, sehingga kami tidak siap. Saya coba untuk meminta pinjaman dari beberapa famili, meskipun malam itu usaha kami belum mendatangkan hasil sama sekali.

Kasihan papa dan Yuk Mi, karena baru sekitar pukul 11 malam kami sempatkan makan di warung nasi goreng di depan Makro.

Sabtu esok harinya, saya dan Yuli putuskan untuk tidak masuk kerja. Bersama papa dan Yuk Mi kami datang ke rumah sakit. Keadaan mama sudah sedikit membaik. Mama sudah sadar, meski belum bisa berkomunikasi. Saya ingat, waktu itu ada Ik Lik (adik perempuan mama) dan Cik Susi (sepupu perempuan saya) datang menjenguk.

Dokter yang bertugas memberitahu bahwa pihak keperawatan meminta pemasangan CVC untuk memudahkan memasukkan obat tanpa harus melewati infus, yang tentu saja memerlukan beaya tambahan yang harus kami setujui. Sebetulnya, kami masih memiliki sedikit tabungan untuk mengcover beaya CVC tersebut, tetapi untuk menjamin beaya pengobatan di hari2 berikutnya, kami masih tidak tahu harus mendapatkannya dari mana.

Yang ada dalam pikiran saya, kelas dan fasilitas yang ditawarkan Rumah Sakit Mitra Keluarga tidak sesuai dengan kemampuan kami. Puji Tuhan, kami memang bukan termasuk keluarga miskin, tetapi dengan jujur kami katakan bahwa kami juga sama sekali bukan orang kaya. Tidak adanya sejumlah dana di rekening kami yang bisa menjamin beaya pengobatan mama, paling tidak untuk satu minggu ke depan, membuat kami merasa was2.

Ketika ada Rudi-teman saya menjenguk, kami mencoba mendiskusikan dengannya mengenai rencana untuk memindah mama ke RKZ atau ke rumah sakit lain yang beayanya lebih murah. Papa yang paling tidak setuju dengan ide tersebut. Menurut papa, paling tidak kami mesti usahakan untuk menunggu hingga mama diputuskan keluar dari ICU.

Papa bahkan tidak kuat lagi untuk tidak menangis. Papa merasa berbesar hati dengan keadaan mama yang sedikit membaik, sekaligus sedih karena kami tidak memiliki beaya untuk tetap mempertahankan mama di Mitra Keluarga.

Untunglah, Philip yang masih berusaha mencari pinjaman dana di Mojokerto akhirnya mengabarkan bahwa salah seorang famili dari keluarga istrinya bersedia menyiapkan sejumlah dana untuk membeayai pengobatan mama.

Tidak banyak yang bisa kami lakukan di rumah selama menunggu jam besuk sore. Kami semua hanya bisa menunggu dan berharap yang terbaik. Sungguh berat menghadapi musibah bagi keluarga pas2an seperti kami. Mungkin seandainya kami ini orang kaya, dengan adanya kepastian dana yang bisa membeayai pengobatan mama, separoh dari masalah seakan sudah terselesaikan. Tetapi kenyataannya saat ini, selain memikirkan kesehatan mama yang belum ada kepastian, kami masih harus memeras otak untuk mengusahakan beayanya. Satu2nya yang menjadi cahaya pengharapan bagi kami adalah mama masih memiliki simpanan cincin dan kalung berlian warisan yang mungkin bisa menjadi jaminan bagi kami untuk melunasi pinjaman dana yang dikeluarkan untuk pengobatan mama. Tetapi menjual berlian warisan dengan harga sesuai pasaran tidak semudah membalikkan telapak tangan

Malam ketika kembali berkunjung kembali ke rumah sakit, akhirnya papa memutuskan untuk menolak proses CVC yang diajukan pihak rumah sakit. Tetapi, saya yakin itu bukan keputusan yang salah, karena pihak perawat menjelaskan bahwa saat ini mereka masih memungkinkan memasukkan obat melalui jarum infus.

Minggu pagi, saya ajak papa untuk menunjukkan kalung dan cincin berlian warisan milik mama kepada Pak Angola-boss saya. Kemarin saya telah mengutarakan kepada beliau mengenai rencana kami untuk menjualnya, dan Pak Angola berkenan untuk melihatnya. Barang2 berharga itu kami tinggal sementara di tangan Pak Angola, karena kami memahami, tidak mudah untuk menentukan harga yang tepat bagi barang2 berharga seperti itu.

Selanjutnya, saya dan papa kembali bertolak ke rumah sakit. Hari Minggu itu, mertua saya dan seluruh saudara ipar saya datang berkunjung. Philip juga datang dari Mojokerto. Jelang siang, papa menerima kabar dari salah seorang famili mama di Jakarta yang bersedia meminjamkan dana untuk tambahan beaya pengobatan mama. Kami mensyukuri hal itu, karena segala bentuk bantuan, berapapun jumlahnya, tentu akan sangat meringankan beban kami. Sayang, ternyata kondisi mama kembali drop, hari itu. Suhu badannya sedikit naik dan mama kembali tidak sadar.

Setelah konsultasi dengan dokter2 spesialis yang menangani pengobatan mama, kami mengetahui bahwa mama mengalami pembengkakan jantung disertai kambuhnya infeksi batu ginjal. Semuanya adalah penyakit lama mama...

Entah karena firasat apa, papa menasihati saya dan Philip untuk bersiap2 menerima segala kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi...

Menjelang sore, rencana untuk memindah mama ke rumah sakit lain kembali kami angkat lagi. Tetapi, kali ini rumah sakit yang menjadi tujuan kami adalah Rumah Sakit Sido Waras - Mojokerto. Karena mama pernah dirawat di rumah sakit tersebut ketika mengalami infeksi batu ginjal beberapa tahun lalu. Papa juga menganggap bahwa dokter Hadi, dokter spesialis internis yang juga pemilik rumah sakit tersebut, tentu saja lebih familiar dalam menghandle pengobatan mama.

Sesuai saran adik saya Philip, malam ketika menjenguk mama kembali di rumah sakit, saya meminta rincian beaya yang nantinya harus kami bayar untuk beaya perawatan mama sampai dengan hari Minggu, 6 Juni. Dan memang hasil yang diberikan pihak administrasi rumah sakit sangat mengejutkan kami. Lebih dari separoh dana pinjaman yang terkumpul sudah bisa dipastikan bakal terpakai hanya dalam tempo 3 hari.

Keputusan kami semakin mantap untuk memindahkan mama ke Rumah Sakit Sido Waras. Saya segera mengutarakan maksud saya ke pihak Mitra Keluarga, sedangkan Philip memastikan tersedianya kamar di Sido Waras.

Hari Senin pagi, saya, papa dan Yuk Mi telah bersiap2 ke rumah sakit untuk mengurus kepindahan mama. Sementara Yuli saya biarkan tetap masuk kerja. Hari itu, meski kondisinya masih belum pasti, tetapi mama telah membuka mata sekali2. Entah mama mendengar atau tidak, saya beritahu mama bahwa kami akan membawa mama ke Mojokerto.

Ingin menangis rasanya ketika melihat papa menggosok2kan gulungan kalung rosario pemberian Ik Lik ke sekujur pipi dan bahu mama. Saya tahu papa penganut ajaran Budha yang sama sekali bertolak belakang dengan iman Katholik. Saat ini papa sangat berduka dan pada siapapun juga papa rela menaruh pengharapannya untuk kesembuhan mama.

Setelah melalui persiapan yang melelahkan, sekitar jam 5 sore, mama diangkut ke ambulance untuk dibawa ke Mojokerto. Papa ikut bersama mobil ambulance, sedangkan Yuk Mi bersama saya menyusul dari belakang.

Keadaan di Rumah Sakit Sido Waras tentu saja jauh berbeda dengan Mitra Keluarga. Tidak ada lagi kemewahan, tidak ada fasilitas AC di ruang tunggu rumah sakit. Tetapi saya merasa tenang, di rumah sakit ini mama pernah dirawat beberapa tahun lalu dan kami berusaha percaya bahwa mama akan tetap mendapatkan perawatan yang terbaik di rumah sakit ini.

Saya lelah sekali, apalagi papa. Saya lihat papa duduk termenung di lantai teras depan ruang ICU. Sedih rasanya...

Malam itu, rencananya papa dan Yuk Mi akan langsung tinggal Mojokerto. Sebelum menuju ke rumah Philip, saya sempatkan ajak mereka makan malam bebek goreng dulu di resto H.Slamet.

Ketika akan balik ke Surabaya, Philip mengabarkan hasil pembicaraannya dengan dokter Hadi. Berdasarkan laporan yang beliau terima dari Mitra Keluarga, mama mengalami 3 penyakit berat yang mengkhawatirkan; Gejala stroke, pembengkakan jantung dan infeksi batu ginjal.

Selama perjalanan balik ke Surabaya, saya merasa didera perasaan sedih yang amat sangat, mengingat kondisi mama saat ini. Baru dua kali mama merasakan naik mobil baru yang selalu beliau tanyakan setiap saya pulang kerja, banyak rencana indah yang seharusnya hari Minggu kemarin kami nikmati bersama saat jalan2 ke Malang. Tetapi hingga hari ini, mama sama sekali belum menampakkan tanda2 membaik.

Malam hari itu, ketika saya sampai di Surabaya dan bersiap2 untuk mandi, Philip menelpon dan memberikan khabar bahwa kondisi mama sedang memburuk. Dia sedang dalam perjalanan ke rumah sakit bersama Vonny-istrinya. Meski saya memaksa, tetapi mereka melarang saya untuk balik lagi ke Mojokerto dengan alasan kondisi fisik saya yang memang sudah lelah.

Sekitar pukul 11 malam, Philip dan Vonny kembali menelpon disertai isak tangis. Mama sudah sangat kritis. Mereka berdua menangis di samping tempat tidur mama di ruang ICU. Kami; saya dan Yuli juga menangis. Ujian terberat bagi seorang anak adalah kala harus bersiap kehilangan ibunya. Semua pasti akan mengalami, dan saat ini adalah waktunya bagi kami berdua; saya dan adik saya Philip.

Saya tidak tahu, bagaimana kondisi mama ketika itu... Apakah mama menderita... Apakah ada pesan2 yang ingin disampaikan oleh mama... Saya hanya bisa mengiyakan saja dengan penuh kesedihan, ketika Philip mengajak saya untuk melepas dan merelakan kepergian mama, karena sudah tidak tega lagi melihat penderitaan mama. Saya hanya berpesan kepada Philip untuk tidak memberitahukan keadaan mama kepada papa malam ini juga. Papa sudah terlalu lelah melewati hari2 berat sejak mama masuk rumah sakit hari Jumat malam lalu.

Sekitar jam 4 pagi, Vonny menelpon, meminta saya untuk segera berangkat. Dalam perjalanan ke Mojokerto, saya kembali diberitahu oleh Philip bahwa mama telah pergi meninggalkan kami semua.

Kepergian mama begitu cepat dan tiba2. Seakan batas antara kegembiraan dan kesedihan begitu tipis. Kadang saya masih menyesal, kenapa Tuhan tidak memberi waktu lebih lama lagi bagi kami untuk membahagiakan mama.

Camilan marning dan kacang kapri yang dibeli mama di Hypermart Royal masih terbungkus rapi, belum sempat mama icipi. Bahkan sandal baru yang mama beli sendiri juga belum sempat mama pakai. Saya tidak kuat menahan tangis, ketika harus kembali lagi ke rumah untuk mengemas barang2 milik mama.

Satu demi satu, kami masukkan barang2 kesayangan mama ke dalam peti mati, sebelum ditutup untuk selamanya. Saya minta Yuli-istri saya untuk mengikut sertakan mantel pink yang biasa mama pakai saat sakit. Siapa tahu, mama membutuhkannya saat cuaca dingin di surga sana.

Betapapun berat rasa kehilangan ini, saya tetap berusaha untuk percaya, bahwa mama telah berbahagia di surga saat ini. Tidak lagi merasakan sakit penyakitnya, tidak lagi membutuhkan kursi rodanya, tidak perlu tongkat atau apapun juga untuk menyangga tubuhnya.

Selamat jalan, mom...
Kami melepas kepergianmu dengan damai...
»»  Silakan baca kelanjutannya

Friday, June 11, 2010

Mengeluh atau Bersyukur...

Suatu hari, seorang penjual daging melihat seekor anjing datang di tokonya dan dia mencoba mengusirnya. Tetapi anjing itu kembali lagi, ia menghampiri anjing itu dan melihat ada catatan di mulutnya, "Tolong sediakan 12 sosis, uangnya dimulut anjing ini."

Si penjual daging melihat ada uang $10 tersebut, diambilnya uang itu, lalu ia memasukkan sosis ke kantung plastik dan dia letakkan di mulut anjing itu. Si penjual daging sangat terkesan terhadap apa yang telah dilakukan oleh si anjing.

Kebetulan saat itu telah waktunya tutup toko, ia menutup tokonya dan mengikuti si anjing yg berjalan ke tempat penyeberangan. Si anjing meletakkan plastiknya, melompat dan menekan tombol penyeberangan, kemudian menunggu lampu hijau dan ia menyeberang.

Anjing tersebut sampai di halte bus dan melihat papan informasi, kemudian duduk. Sebuah bus datang mendekati halte, si anjing melihat nomor bus, kemudian kembali duduk.

Bus berikutnya tiba... yakin bus tersebut adalah bus yang benar, si anjing naik. Si penjual daging sangat terkagum2 sambil terus mengikuti anjing itu. Akhirnya si anjing berjalan kedepan, ia berdiri dengan 2 kaki belakangnya dan menekan tombol agar bus berhenti. Kemudian ia keluar dan berhenti depan rumah, lalu meletakkan kantung plastik bawaannya.

Kemudian ia membenturkan dirinya ke pintu rumah tersebut. Si penjual melihat seorang pria membuka pintu dan langsung memukuli, menendang serta menyumpahi anjing itu. Si penjual segera berlari untuk menghentikan tindakan pria tersebut.

"Apa yg kau lakukan? Anjing ini sangat jenius"
Pria itu menjawab, "Kau bilang anjing ini pintar? Dalam minggu ini sudah yang kedua kalinya anjing ini lupa membawa kunci!!"

Mungkin hal serupa sering terjadi di kehidupan kita. Sesuatu yang bagi kita tidak memuaskan, mungkin sesuatu yang sangat luar biasa bagi orang lain. Yang membedakan hanyalah seberapa besar penghargaan kita.

Pemilik anjing tidak menghargai kemampuan si anjing dan hanya terfokus pada kesalahannya. Sebaliknya, pemilik toko menganggap anjing tersebut luar biasa pintar.

Kita tidak menyadari bahwa setiap hari kita selalu di hadapkan pada 2 pilihan, hendak mengeluh atas berbagai hal yg kurang memuaskan, atau bersyukur atas berbagai karunia yg telah kita terima...
»»  Silakan baca kelanjutannya