Wednesday, March 9, 2016

Semalam Di Tijili Seminyak

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kesempatan untuk menginap semalam di Hotel Tijili Seminyak. Bukan untuk berlibur, tetapi sehubungan dengan tugas untuk memotret hasil karya PT.Savannah Interior yang kebetulan menjadi sub-kontraktor yang khusus menangani pengerjaan kontruksi kayu di hotel tersebut.

Sesuai jadwal yang telah ditetapkan oleh Frans, pemilik Savannah Interior yang kebetulan teman lama saya, kami akan berangkat ke Bali dengan penerbangan pagi dan langsung melakukan tiga kali sesi pemotretan; siang, malam dan esok paginya untuk kemudian balik ke Surabaya malam harinya. Sehari sebelum berangkat, saya coba melihat sepintas bentuk bangunan Hotel Tijili yang menurut cerita Frans belum genap sebulan mulai beroperasi. Tidak banyak info dan gambaran yang bisa saya dapatkan melalui website resmi hotel tersebut.

Untuk keperluan pemotretan, saya membawa bekal lensa ultra wide beserta tripod, dengan pertimbangan bahwa memotret untuk keperluan fotografi arsitektur membutuhkan view yang lebar dan detail. Sekitar pukul 10 pagi, kami sampai di lokasi dan langsung melakukan early check-in. Seperti kebanyakan boutique hotel, Tijili Seminyak ini menempati area yang tidak luas-luas amat. Memiliki teras yang rindang beralaskan decking kayu berbahan kayu ulin yang terkesan hangat. Lobby hotelnya tidak terlalu megah, tetapi terkesan unik dengan hiasan ornamen berbahan kayu yang cukup menarik. Bagian yang paling menarik perhatian saya adalah resto, lokasinya berbatasan langsung dengan teras luar, didisain dengan dominasi warna2 kuning dan orange yang segar, pemilihan meja, kursi dan batang2 bambu di bagian plafonnya, ditambah lagi dengan pengaturan cahaya yang sangat kreatif, dijamin bikin siapapun betah berlama-lama di sana. Tepat di belakang resto, saya menemukan kolam renang. Seluruh lantai di area kolam renang ini dilapisi decking berbahan kayu ulin. Terkesan senada dengan nuansa etnik yang sengaja ditonjolkan melalui tekstur dinding batu dan tanaman yang menghiasi area tersebut.

Frans menunjukan kepada saya bagian mana saja yang merupakan hasil pekerjaan perusahaannya. Yaitu seluruh decking kayu berbahan ulin di bagian teras dan pool area, frame berbentuk kisi2 berbahan kayu ulin juga di seluruh teras kamar yang menghadap kolam dan rangka atap di bagian luar hotel. Semua bagian interior maupun exterior hotel amat sangat menarik untuk diabadikan dan memotret di lokasi yang indah adalah sesuatu yang menggembirakan bagi semua fotografer, namun fokus saya hanyalah ketiga bagian tersebut di atas. Maka sesuai dengan kebutuhan, bagian2 itulah yang harus ditonjolkan, tinggal kreativitas kita untuk menentukan angle dan waktunya.

Pada sesi pertama, saya hanya mengambil obyek bingkai kayu yang terpasang di semua teras kamar yang menghadap area kolam renang, dengan angle menghadap ke langit. Karena semua decking kayu, baik yang di pool area maupun di teras hotel masih basah akibat hujan semalam. Memotret dengan background langit cukup sulit, di satu sisi kita harus fokus mengunci eksposure pada obyek yang ingin kita foto, sementara view langit bali yang siang itu begitu cerah sangat sayang untuk dikorbankan. Apalagi sengaja tidak memanfaatkan peralatan lighting, dengan tujuan untuk mendapatkan view dengan pencahayaan yang alami.

tijili seminyak

Sesi pemotretan selanjutnya kami lakukan ketika menjelang senja. Frans bilang, penataan lampu di Tijili Hotel ini didisain dengan cukup indah, sehingga sayang untuk dilewatkan. Dengan didukung tripod, saya melakukan pemotretan dengan slow speed. Memanfaatkan keindahan cahaya di resto sebagai latar belakang, sementara obyeknya tetap decking kayu. Untuk mendapatkan kesan luas dan mewah, saya lebih sering mengambil gambar dengan angle rendah.

tijili seminyak

Sesi terakhir kami lakukan pada pagi keesokan harinya. Kali ini, saya melanjutkan apa yang belum bisa saya kerjakan kemarin akibat decking kayu yang masih basah. Pada pemotretan pagi ini, saya sengaja tetap menggunakan tripod. Pamanfaatan tripod ini dengan tujuan untuk menghindari faktor2 tertentu yang bisa mengurangi keindahan dan detail obyek seperti shaking ataupun noise yang diakibatkan oleh penggunaan ISO yang kelewat tinggi. Dengan tripod, kita juga bisa memeriksa dengan lebih detail sebelum melakukan eksekusi.

tijili seminyak

Dari pengalaman memotret karya arsitektural di atas, saya mendapat pelajaran, antara lain sebagai berikut:

  • Manfaatkan Cahaya Alami -Hindari pemakaian flash maupun jenis lampu lain yang bisa membuat obyek terlihat tidak natural.
  • Gunakan Tripod -Tripod bermanfaat untuk menhindari shaking. Karena foto untuk karya arsitektur maupun interior membutuhkan detail yang tinggi, sehingga getaran sedikit saja bisa mempengaruhi hasil foto kita. Tripod juga berguna saat kita terpaksa memotret dengan kondisi kurang cahaya.
  • Gunakan Bukaan Kecil -Tujuannya adalah untuk mendapatkan detail yang maksimal dan meminimalkan blur yang diakibatkan oleh apertur lensa.
  • Gunakan Lensa Wide -Agar mencakup semua area yang kita akan abadikan. Pemilihan lensa yang terlalu wide-pun juga beresiko distorsi yang berlebihan, maka dari itu pilih lensa wide yang sesuai dengan kebutuhan.
  • Angle Yang Tegak Lurus Secara Verikal -Memotret dengan angle tegak lurus secara vertikal dibutuhkan untuk mendapat efek dramatis secara maksimal, tentu saja hal ini bukan mutlak harus dilakukan, terutama bila kita butuh memotret dengan obyek yang terlalu tinggi.

tijili seminyak