Monday, April 29, 2013

Gaya Hidup Para Fotografer Nude

Kaki jejang wanita berambut panjang itu menyilang, menghalangi pakaian dalamnya, saat sambaran lampu blitz beberapa fotografer amatir memapar tubuhnya. Sesekali perempuan itu mengibaskan rambutnya sambil menatap tajam arah lensa kamera para pria yang menjepretnya. Bodi mulus yang hanya dibalut dengan bra dan celana dalam warna merah itu terlihat jelas tiap lekuk tubuhnya yang minim lemak. Dan senyum genit wanita itu makin membuat para fotografer bersemangat untuk membidikkan kameranya. Bak paparazi yang sedang bernafsu memburu target.

Usai pose duduk dengan dua tangan menyangga tubuhnya, wanita berumur 20-an tahun itu berpindah tempat untuk pose berikutnya. Kali ini, beberapa fotografer meminta ia berbaring di atas batu besar, tepat di tepi sungai yang airnya bening dan mengalir deras. Posenya lebih menantang dari sebelumnya. Bra yang ia kenakan, secara perlahan diturunkan talinya, memenuhi permintaan para fotografer yang mengelilingi.

“Oke….siap..satu,dua, tiga! Lagi..lagi…mantap…” seru salah seorang fotografer seolah mengkomandoi fotografer lainnya. Kilatan lampu blitz kembali bertubi-tubi memapar tubuh indah sang model.

Itulah sekilas suasana sesi pemotretan “pose vulgar” yang dilakukan oleh para fotgrafer amatiran di sebuah lokasi di Bogor, Jawa Barat. Mereka menyewa tempat tersebut dari seorang pemilik vila di sana. Model yang jadi obyek jepretan pun bukan model biasa. “Dia model yang siap untuk diarahkan dalam pose apapun, sesuai keinginan sang fotografer,” tutur DD, salah satu inisial fotografer yang hobi memotret model pose vulgar.

Fenomena pemotretan model foto nude, memang sudah lama adanya. Hanya, keberadaan mereka tidak seperti klub fotografer biasa. Kegiatan sesi pemotretan macam ini bisa dibilang under ground dan bersifat terbatas. Maka itu, mereka tidak mau menyebutnya sebuah klub fotografer. “Lebih nyaman kami nyebut-nya kumpul-kumpul sesama penghobi fotografi saja,” tambahnya.

Menurut pria yang sehari-hari berprofesi sebagai manajer marketing di sebuah perusahaan di Jakarta ini, memotret hanyalah hobi saja. Bukan untuk mencari uang. Ia mengaku sudah “bergabung” dengan kumpulan para fotografer amatiran itu sejak tiga tahun lalu. “Koleksi saya sudah lumayan banyak. Dari foto yang biasa, sampai yang full nude,” ucapnya sambil terkekeh.

Kepada www.matraindonesia.com, lelaki yang selalu tampil klimis ini menceritakan, kegiatan foto model pose vulgar sifatnya tertutup, hanya untuk orang-orang yang sudah dikenal. Bisa juga orang yang sudah dikenal itu, lalu membawa orang baru dengan syarat orang tersebut bisa dipercaya bahwa foto-foto vulgar yang diambil hanya untuk keperluan koleksi pribadi. “Cuma ini yang diperlukan, karena para model tidak ingin foto bugilnya nanti tersebar luas ke publik,” kata pria yang mengaku sudah menduda sejak dua tahun lalu ini.

Menurut DD, tak ada jadwal rutin untuk pemotretan. Bisa dua minggu sekali atau kalau sedang banyak peminatnya bisa seminggu dua kali. Dan weekend (Sabtu & Minggu) biasanya menjadi pilihan mereka, sembari melepas penat setelah seminggu bekerja.

Dalam sehari pemotretan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama jam 14.00 – 17.00, dan sesi kedua jam 18.00 – 21.00. Dan untuk setiap sesi, dibatasi biasanya maksimal hanya enam fotografer. Itu aturan main yang sudah mereka “sepakati”.

“Milik” Fotografer

Bim, fotografer pose vulgar lainnya, mengungkapkan kegiatan macam motret diadakan oleh perorangan sebagai penyelenggaranya. Penyelenggara biasanya akan mem-broadcast info/jadwal pemotretan pose vulgar melalui email atau handphone, kepada semua orang-orang yang dikenal dan tertarik. Biasanya dilakukan sebulan sebelum hari pelaksanaan.

Info yang disampaikan dalam broadcast antara lain tentang hari dan tanggal pemotretan, nama model yang akan dipotret dan contoh foto profilnya, biaya yang harus dikeluarkan, dengan cara transfer ke rekening penyelenggara. Biaya untuk satu orang peserta dimulai dari harga Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta, tergantung dari kualitas modelnya.

Besar kecilnya pembayaran, menurut Bim, bukan didasarkan atas vulgarnya buka-bukaan si model. Karena ini adalah sesi foto pose vulgar, jadi semua model yang melakukan sudah pasti tidak mengenakan pakaian. “Yang mbedain pembayarannya itu kualitas model, dari tingkat kecantikan, kemulusan dan keindahan tubuh,” Bim memperjelas.

Kalau fotografer sudah transfer pembayaran, penyelenggara baru akan memberitahu lokasi pemotretan, serta memberikan kode khusus bagi peserta. “Dengan kode khusus ini, tak bisa sembarang orang bisa nimbrung saat sesi pemotretan berlangsung,” tambah pria yang bekerja di sebuah perusahaan swasta di bilangan Sudirman, Jakarta Selatan.

Saat sesi pemotretan berlangsung, Bim mempertegas, model sepenuhnya menjadi “milik” para fotografer. Si model harus mau diarahkan gayanya sesuai keinginan mereka. Mulai dari gaya dengan pakaian lengkap hingga tak sehelai benang pun melilit tubuhnya. Kadang juga memakai beberapa aksesories atu properti penunjang lainnya untuk memperindah tampilan foto.

Bermula dari Facebook

Umumnya, foto pose vulgar sifatnya pribadi. Tak terikat kontrak dengan agensi manapun. Lidya Azzaleyrea Syallen, salah satu model pose vulgar, mengaku dirinya enggan berhubungan dengan agensi model. Ia memilih mengembangkan jaringan melalui para fotografer yang sudah ia kenal. “Saya nggak mau ribet,” kilahnya.

Kepada sebuah majalah eksekutif, perempuan 20 tahun kelahiran Samarinda, Kalimantan Timur, ini blak-blakan berkisah. Menurutnya, sekali sesi pemotretan waktunya hanya satu jam. Lebih dari itu, harus ada pembicaraan sebelum sesi pemotretan berlangsung. Untuk pemotretan casual, ia mengaku dibayar antara Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta. Sedangkan untuk pose nude, ia menerima Rp 3 juta hingga Rp 5 juta. “Jadi, nggak harus Rp 5 juta, yang penting pantas saja,” tuturnya.

Lidya mengaku baru sebulan lebih menjalani profesi model pose vulgar. Namun, di kalangan fotografer di Samarinda, namanya cukup “harum”. Bahkan, beberapa kali ia sudah mendapat tawaran pemotretan ke beberapa kota, termasuk Jakarta.

Muasal masuk ke dunia model ini memang agak tragis. Ia mengisahkan, awalnya hanya memosting status di facebook. Di facebook-nya ia menuliskan “Aku ingin sekali difoto seksi”. Rupanya, hanya dalam tempo beberapa jam sudah ada facebooker yang “menyahut” keinginannya itu.

Singkat cerita, mereka saling berkenalan dan Lidya diperkenalkan dengan seorang fotografer di kota kelahirannya. Terjadilah deal antar-keduanya. Lidya mengaku awalnya bingung, karena sang fotografer mengajukan persyaratan aneh. Persyaratan pertama, ia harus bersedia tak mengenakan pakaian apapun selama sesi pemotretan di kamar. Yang kedua, dan ini yang membuat Lidya awalnya takut, sang fotografer meminta “kompensasi”: harus mau ditiduri sang fotografer.

“Saya jalani itu semua, karena dia (fotografer) juga janji tidak akan menyebarkan foto-foto saya, dan mau membantu saya jadi model,” ungkap Lidya dengan nada suara menurun.

Sejak itulah, wanita yang pernah kuliah hingga smester lima jurusan Bahasa Inggris sebuah perguruan tinggi di Samarinda ini makin terobsesi menjadi model hingga sekarang. Ia juga tak menampik selama menjalani profesi ini banyak fotografer yang nakal dan ngajak check in ke hotel. “Tapi sekarang saya lebih hati-hati. Saya lebih banyak foto yang casual saja,” ujarnya.

Ada Juga yang “Jualan”

Pengakuan Lidya semacam itu, di mata DD dan Bim bukan hal yang aneh. “Kejadian yang seperti yang menimpa Lidya itu memang nyata, dan tidak aneh lagi,” tegas Bim.

Namun, kedua fotografer ini mengaku memotret model pose vular hanya untuk kepuasan dan koleksi pribadi. Tidak ada satu pun yang untuk dijual. Ini sesuai kesepakatan dengan penyelenggara dan juga sang model. Menurut mereka, jika foto pose vulgar untuk keperluan publikasi, akan memiliki harga yang berbeda.

Kedua fotografer ini juga mengaku, hobi foto model pose vulgar yang mereka lakukan selama ini tidak diketahui oleh keluarga. Hanya antarteman fotografer yang sudah kenal baik saja yang saling tahu.

Saat ditanya, apakah ada fotografer yang mengajak kencan lanjutan di hotel setelah sesi pemotretan, DD hanya menjawab,”Tergantung modelnya. Tidak semua model nude bisa dibawa check in ke hotel untuk ditiduri.”

Tapi, ia tak menyangkal ada model pose vulgar yang juga “jualan”. “Tinggal bicara baik-baik dengan sang model, kalau ada kecocokan harga bisa langsung dilanjut,” tambahnya.

“Bagaimana dengan Anda?” ekskutif mencoba untuk mengorek lebih dalam. Pria berbadan kurus ini hanya menjawab diplomatis,”Maaf, saya tidak bersedia menjawab pertanyaan ini, ini sangat bersifat pribadi.”

Sekalipun demikian, Bim mengaku, sebagai laki-laki normal, pastinya ia terangsang dan muncul nafsu saat melakukan pemotretan. “Namanya juga pejantan,” ungkapnya sambil tertawa lepas.

Bahkan, tak jarang joke-joke seronok acap menjadi bumbu saat sesi pemotretan berlangsung. Menurut Bim, kadang ada juga fotografer yang terang-terangan bilang bahwa dia (maaf) “burungnya” berdiri, atau sang model yang sering bercanda dengan sengaja memperlihatkan bagian tubuhnya yang paling sensitif sembari berceloteh,”Ayoo.... siapa berani…”

Bim dan DD mengaku, selama menekuni hobi ini, terangsang itu akan timbul tenggelam seiring berlangsungnya sesi pemotretan yang fun. Yang bahaya, jika hasratnya sudah tenggelam, lalu usai sesi pemotretan hasratnya muncul lagi. Jika sudah demikian, menurut Bim, obatnya cuma satu: segera pulang!

Sumber: Matra Indonesia